“Ayah, ada surat da—,” belum sempat menyelesaikan perkataan, langkah Sera terhenti tepat di tengah gawang pintu kamar Sagara. Mata hazelnya membulat saat melihat beberapa tumpukan buku tebal tak beraturan memenuhi lantai. “Astaga, kenapa berantakan sekali,” desahnya sambil menggaruk-garuk rambut yang tidak gatal.
Sera melangkah mendekati salah satu tumpukan buku terdekat dan menekuk kakinya untuk melihat lebih jelas. Tangannya mengambil sebuah buku tebal bersampul hijau gelap dengan huruf-huruf emas bertuliskan ‘Runtuhnya Sebuah Dinding’ saat terkena pantulan cahaya.



